Fenomena Dibalik Rp 2200/SMS Akademia Televisi

Mengapa uang dihamburkan untuk SMS akademia Televisi ?, mengapa tidak disedekahkan saja ?. Marak sekali tayangan di stasiun televisi yang menjadikan sosok kontestan atau akademia menjadi 'produk' menumpuk pundi-pundi uang Operator selular dan stasiun televisi. Dengan sekali kirim SMS potong pulsa 2.200 rupiah memberikan 1 point untuk para peserta yang didukungnya.


Fenomena SMS dukungan terhadap peserta akademia memang bukan sesuatu yang bombastis di media. Padahal potensi keburukannya lebih banyak dari manfaatnya. Mari kita simulasikan berapa potensi pendapatan operator atau stasiun televisi dalam satu sesi pertunjukan dan dukungan peserta akademia dihasilkan dari banyaknya SMS yang diterima. lihat simulasi di bawah ini.

Seandainya ada 10 peserta dan setiap peserta dalam satu kabupatennya saja kita minimmalkan ada 2.000 orang saja yang berkirim sms. setiap orang umpama mengirim 2 sms , harga per-SMS Rp. 2.200, hitungannya menjadi : 
  • 10 x 2.000 x 2 x 2.200 = Rp. 88.000.000,-







Iti hitungan minimal dalam 1 kabupaten, bayangkan kalau pendukungnya se-provinsi bahkan dari daerah lain. Contoh lanjutan hitungan diatas : bila dalam satu propinsi ada 100 kabupaten , maka hitungannya menjadi 100 x 8,8 juta = Rp. 8.800.000.000, - ( delapan milyar lebih dalam hitungan 1 hari ).

Begitu besarnya mereka para pemilik stasiun televisi dan operator selular mendapat keuntungan dengan balutan biduan-biduan. yang sangat disayangkan adalah para pemirsa yang mengirim SMS dukungan. Uang 2.200 rupiah mungkin dipandang sebagai hal yang kecil dan tidak ada masalah bagi mereka si pengirim. Namun tahukah apabila dana sebesar itu tidal jatuh ke tangan penyedia layanan yang notabene sudah 'super kaya'. hitungan satu hari 8 milyar bisa kita bayangkan kalau uang itu masuk ke tempat-tempat yatim piatu, pantai jompo, Sarana pendidikan dan lain sebagainya pasti Negara ini bukan hanya dientaskan dari kemiskinan bahkan bisa menjadi negara Terkaya di dunia. Menjadikan sedekah harian sebesar 2.200 rupiah berkelanjutan yang baik dan bermanfaat bagi sesama dibarengi dengan keberkahan. Sayang sekali kalau menghamburkan uang demi kontestan tapi enggan untuk sedekah dengan besaran yang sama.

Namun iklan memang lebih menggoda dilihat dari sudut pandang marketing hiburan. Kita hanya berharap bahwa teknik-teknik marketing yang 'menyedot' uang rakyat demi pundi-pundi pemilik operator selular dan stasiun televisi tidak berlanjut lagi, setidaknya ada aturan dari pemerintah tentang batasan besaran uang serta jumlah pengiriman. Bagi umat Islam, hal diatas sudah digolongkan sebagai perbuatan yang mubadzir, menyia-nyiakan yang lebih bermanfaat dan memperbanyak kemudhorotan. 

Previous
Next Post »
0 Komentar

Partner Site